Select Menu

sponsor

Select Menu

Flora Fauna

Transportasi Tradisional

Bali

Pantai

Kuliner



Rowley Alberta, Kanada, yang pernah memiliki populasi sekitar 500 orang pada tahun 1920-an terpencil di pedesaan Alberta, sekarang dijuluki kota hantu (ghost town).

Untuk seperempat abad berikutnya, penduduk setempat memulihkan rumah-rumah tua dan berharap pengunjung tertarik datang ke Alberta, Kanada. Ketenaran baru datang pada tahun 1988 ketika tim produksi bioskop menggunakan Rowley sebagai lokasi pembuatan Film Kanada, Bye Bye Blues.
Apa yang membuat rumah wanita ini berbeda dari rumah-rumah kecil Vietnam lainnya adalah desainnya. Sementara sebagian besar rumah kecil di negara tropis dan kepulauan berbentuk seperti kotak, miliknya berbentuk seperti bangunan yang sangat sempit.


Rumah mungil ini terdiri dari dua lantai memiliki lebar 1,3 meter dengan panjang 10 meter. Karena desainnya yang unik, rumah mungil ini memancing berbagai reaksi netizen setelah diposting di media sosial. Namun, setelah melihat ke dalam, rupanya cukup mengejutkan karena interior rumah ini membuatnya terlihat luas.
Museum Balanga dulunya merupakan Gedung Monumen Dewan Nasional (GMDN) yang dibangun pada tahun 1963 dan diresmikan pada tanggal 6 April 1973 oleh Direktur Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan GVH Vooger menjadi Museum Negeri Provinsi Kalimantan Tengah “Balanga”, yang kemudian menjadi UPT. Museum Kalimantan Tengah “Balanga” di bawah pembinaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah.

Museum Balanga memiliki tugas sebagai pengembangan yang bersifat pendidikan Suku Dayak di Kalimantan Tengah, antara lain mengumpulkan dan mendokumentasi benda-benda budaya (artefaks) dan sumber daya alam, melakukan pengadaan dan mengkonversikan benda-benda budaya untuk dipamerkan, serta menyajikan benda-benda budaya agar bisa menarik minat masyarakat agar berkunjung ke museum ini, sehingga bisa berfungsi sebagai tempat pendidikan yang bersifat budaya, penelitian dan juga studi wisata.

Museum Negeri Provinsi Kalimantan Tengah "Balanga" dalam rangka pelayanan terhadap pengunjung museum dan masyarakat memiliki beberapa fasilitas antara lain :

- Pendopo

- Ruang Administrasi

- Auditorium dan Ruang Edukator

- Perpustakaan

- Laboratorium

- Ruang Kurator dan Ruang Studi Koleksi

- Ruang Generator

- Ruang Pameran Temporer

- Ruang Pameran Tetap

- Rumah Kepala

- Gerbang Pos Jaga

- Pool Kendaraan


Museum Negeri Provinsi Kalimantan Tengah "Balanga" memiliki koleksi buku-buku berbagai jenis antara lain :

- Karya Umum

- Ilmu-Ilmu Sosial

- Teknologi

- Kesenian dan Olah Raga

- Kesusasteraan


Museum Negeri Provinsi Kalimantan Tengah "Balanga" memiliki koleksi dari berbagai jenis antara lain :

- Ethnografika

- Historika

- Arkeologika

- Numismatika/Heraldika

- Keramologika

- Biologika

- Filologika

- Seni Rupa

- Teknologika


Kalau Mandra gampang saja menjawabnya: “au ah gelap!” Mahbub Djunaidi si kolomnis ternama asli Betawi pernah mencoba menjawabnya; tapi, ia pun akhirnya menyerah. “Bukan apa-apa bagaimana bisa menjelaskan sedangkan topangan literaur saja tidak ada. Mana ada nenek moyang orang Betawi meninggalkan tulisan? Babad, hikayat—tiada itu. Ada memang kisah sultan Zainul Abidin atau Siti Zubaedah yang saban-saban dipaparkan sahibul hikayat saat pesta sunatan atau perkawinan. Tetapi, isinya penuh rupa-rupa petualangan dan tingkah jin dalam berbagai kaliber.” Begitu alasannya.

Sampai kini hanya Ridwan Saidi yang tak lelah-lelah menjawab pertanyaan itu. Sudah tiga buku ditulisnya untuk menjelaskan yaitu “Profil Orang Betawi” (1997), “Warisan Budaya Betawi” (2000) dan “Babad Tanah Betawi” (2002). Tak puas, di beratus forum diskusi Ridwan omong, ikut debat polemik dengan macam-macam peneliti dari dalam dan luar negeri tentang hal yang sama.

Menurut Ridwan orang Betawi bukanlah orang “kemarin sore”. Tidak benar jika ada yang mengatakan orang Betawi itu keturunan budak yang didatangkan Kompeni untuk mengisi intramuros alias kota benteng Batavia. Orang-orang Betawi telah ada jauh sebelum J.P. Coen membakar Jayakarta tahun 1619 dan mendirikan di atas reruntuknya kota Batavia.

Salakanagara Hingga Kalapa

Cikal bakal sejarah orang Betawi dikaitkan Ridwan dengan tokoh bernama Aki Tirem yang hidup di daerah kampung Warakas (Jakarta Utara) pada abad 2. Aki Tirem hidup dari membuat priuk dan saban-saban bajak laut menyatroni tempatnya untuk merampok priuk. Lantaran keteteran sendiri melawan bajak laut maka diputuskan untuk mencari perlindungan dari sebuah kerajaan. Saat itulah Dewawarman seorang berilmu dari India yang menjadi menantunya dimintanya mendirikan kerajaan dan raja.

Pada tahun 130 berdirilah kerajaan pertama di Jawa yang namanya Salakanagara. Salakanagara nagara menurut Ridwan berasal ari bahasa Kawi salaka yang artinya perak.

Secara etimologis kemudian Salakanagara itu dikaitkan Ridwan dengan laporan ahli geografi Yunani bernama Claudius Ptolomeus pada tahun 160 dalam buku Geografia yang menyebut bandar di daerah Iabadiou (Jawa) bernama Argyre yang artinya perak. Dikaitkan pula dengan laporan dari Cina zaman Dinasti Han yang pada tahun 132 mengabarkan tentang kedatangan utusan Raja Ye Tiau bernama Tiao Pien.

Ye Tiau ditafsirkan sebagai Jawa dan Tiau Pien sebagai Dewawarman. Termasuk dalam hal ini yang disebut Slametmulyana sebagai Kerajaan Holotan yang merupakan pendahulu kerajaan Tarumanagara dalam bukunya Dari Holotan sampai Jayakarta adalah Salakanagara.

Soal letak Salakanagara, Ridwan menunjuk kepada daerah Condet. Alasannya karena di Condet salak tumbuh subur dan banyak sekali nama-nama tempat yang bermakna sejarah, seperti Bale Kambang dan Batu Ampar. Bale Kambang adalah pasangrahan raja dan Batu Ampar adalah batu besar tempat sesaji diletakkan.

Di Condet juga terdapat makam kuno yang disebut penduduk Kramat Growak dan makam Ki Balung Tunggal yang ditafsirkan Ridwan adalah tokoh dari zaman kerajaan pelanjut Salakanagara yaitu Kerajaan Kalapa. Tokoh ini menurut Ridwan adalah pemimpin pasukan yang tetap melakukan peperangan walaupun tulangnya tinggal sepotong maka lantaran itu dijuluki Ki Balung Tunggal.

Setelah menunjuk bukti secara geografis, Ridwan pun melengkapi teorinya tentang cikal bakal sejarah orang Betawi dengan sejarah perkembangan bahasa dan budaya Melayu agar dapat semakin terlihat batas antara orang Betawi dengan orang Sunda. Ia pergi ke abad 10. Saat terjadi persaingan antara wong Melayu yaitu Kerajaan Sriwijaya dengan wong Jawa yang tak lain adalah Kerajaan Kediri. Persaingan ini kemudian menjadi perang dan membawa Cina ikut campur sebagai penengah karena perniagaan mereka terganggu. Perdamaian tercapai, kendali lautan dibagi dua, sebelah timur mulai dari Cimanuk dikendalikan Sriwijaya, sebelah timur mulai dari Kediri dikendalikan Kediri. Artinya pelabuhan Kalapa termasuk kendali Sriwijaya.

Sriwijaya kemudian meminta mitranya yaitu Syailendra di Jawa Tengah untuk membantu mengawasi perairan teritorial Sriwijaya di Jawa bagian barat. Tetapi ternyata Syailendara abai maka Sriwijaya mendatangkan migran suku Melayu Kalimantan bagian barat ke Kalapa. Pada periode itulah terjadi persebaran bahasa Melayu di Kerajaan Kalapa yang pada gilirannya – karena gelombang imigrasi itu lebih besar ketimbang pemukin awal – bahasa Melayu yang mereka bawa mengalahkan bahasa Sunda Kawi sebagai lingua franca di Kerajaan Kalapa.

Ridwan mencontohkan, orang “pulo”, yaitu orang yang berdiam di Kepulauan Seribu, menyebut musim di mana angin bertiup sangat kencang dan membahayakan nelayan dengan “musim barat” (bahasa Melayu), bukan “musim kulon” (bahasa Sunda). Orang-orang di desa pinggiran Jakarta mengatakan “milir”, “ke hilir” dan “orang hilir” (bahasa Melayu Kalimantan bagian barat) untuk mengatakan “ke kota” dan “orang kota”.

Studi Lance Castles

Agar timbangan tidak berat sebelah maka perlulah disini dikemukakan pula sosial-origin alias asal-usul sejarah orang Betawi yang ditulis Lance Castles, meskipun telaah peneliti Australia ini banyak bikin berang orang Betawi, tetapi sampai sekarang hanya itulah yang dianggap sebagai jawaban paling memuaskan (kalau tidak bisa disebut accepted history) oleh banyak pihak, terutama para akademisi.

Pada April 1967 di majalah Indonesia terbitan Cornell University, Amerika, Castles mengumumkan penelitiannya menyangkut asal-usul orang Betawi. Hasil penelitian yang berjudul “The Ethnic Profile of Jakarta” menyebutkan bahwa orang Betawi terbentuk pada sekitar pertengahan abad 19 sebagai hasil proses peleburan dari berbagai kelompok etnis yang menjadi budak di Batavia.

Secara singkat sketsa sejarah terjadinya orang Betawi menurut Castles dapat ditelusuri dari, pertama daghregister, yaitu catatan harian tahun 1673 yang dibuat Belanda yang berdiam di dalam kota benteng Batavia. Kedua, Catatan Thomas Stanford Raffles dalam History of Java pada tahun 1815. Keriga, catatan penduduk pada Encyclopaedia van Nederlandsch Indie tahun 1893 dan keempat sensus penduduk yang dibuat pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930.

Oleh karena klasifikasi penduduk dalam keempat catatan itu relatif sama, maka ketiganya dapat diperbandingkan, untuk memberikan gambaran perubahan komposisi etnis di Jakarta sejak awal abad 19 hingga awal abad 20. Sebagai hasil rekonstruksi, angka-angka tersebut mungkin tidak mencerminkan situasi yang sebenarnya, namun menurut Castles hanya itulah data sejarah yang tersedia yang relatif meyakinkan.

Dari perbandingan dapatlah diketahui bahwa selama sekitar satu abad, beberapa kelompok etnis seperti Bali, Bugis, Makasar, Sumbawa, dan sebagainya tidak tercatat lagi sebagai kelompok etnis Jakarta. Sedangkan jumlah orang Jawa dan Sunda meningkat pesat, yang berarti migrasi cukup besar di dari Jawa, dan mungkin estimasi kelompok etnis Sunda di masa lalu di daerah sekitar Batavia terlalu rendah. Sebaliknya muncul kelompok etnis baru yang disebut “Batavians” (Betawi) dalam jumlah besar yaitu 418.900 orang. Jadi secara umum dapatlah dikatakan bahwa kehadiran orang Betawi merupakan buah dari kebijakan kependudukan yang secara sengaja dan sistematis diterapkan oleh VOC.

Bukti Arkeologis

Sepuluh tahun setelah pengumuman hasil penelitian Lance Castles, arkeolog Uka Tjandarasasmita mengemukakan monografinya Jakarta Raya dan Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan Pajajaran (1977). Uka memang tidak menyebut monografinya untuk menangkis tesis Castles, tetapi secara arkeologis telah memberikan bukti-bukti yang kuat dan ilmiah tentang sejarah penghuni Jakarta dan sekitarnya dari masa sebelum Tarumanagara di abad 5.

Dikemukakan bahwa paling tidak sejak zaman neolitikhum atau batu baru (3500 – 3000 tahun yang lalu) daerah Jakarta dan sekitarnya dimana terdapat aliran-aliran sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi, Citarum pada tempat-tempat tertentu sudah didiami oleh masyarakat manusia. Beberapa tempat yang diyakini itu berpenghuni manusia itu antara lain Cengkareng, Sunter, Cilincing, Kebon Sirih, Tanah Abang, Rawa Belong, Sukabumi, Kebon Nanas, Jatinegara, Cawang, Cililitan, Kramat Jati, Condet, Pasar Minggu, Pondok Gede, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Kelapa Dua, Cipete, Pasar Jumat, Karang Tengah, Ciputat, Pondok Cabe, Cipayung, dan Serpong. Jadi menyebar hampir di seluruh wilayah Jakarta.

Dari alat-alat yang ditemukan di situs-situs itu, seperti kapak, beliung, pahat, pacul yang sudah diumpam halus dan memakai gagang dari kayu, disimpulkan bahwa masyarakat manusia itu sudah mengenal pertanian (mungkin semacam perladangan) dan peternakan. Bahkan juga mungkin telah mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang teratur.

Seberapa Penting Keturunan

Akhirnya, sebelum menutup tulisan ini perlu pula dikemukakan pertanyaan, yang terlepas dari polemik soal asal muasal orang Betawi. Sesungguhnya seberapa pentingkah keturunan itu bagi orang Betawi? Mengutip penelitian Ninuk Kleden, maka tiga yang dianggap terpenting dalam fase kehidupan orang Betawi adalah khitanan, kawinan,, dan kematian. Berlatar kultur seperti itu, tentunya orang Betawi sedikit sekali punya konsentrasi untuk mengingat-ingat sesuatu yang berkaitan dengan kelahiran. Adat hidupnya yang banyak bertopang pada agama Islam lebih mengajarkan untuk lebih mengingat-ingat hari kematian. Wajar jika orang Betawi menganggap adat berulang tahun itu tak penting. Itu adat kafir karena datangnya dari Kumpeni yaitu sebutan mereka untuk VOC (Verenigde Oost-indiesche Compagnie).

Dalam konteks itulah adalah wajar jika Mandra spontan menjawab “au ah gelap” soal asal muasal orang Betawi. Kapan lahir dan keturunan siapa tak persoalan bagi orang Betawi. Apakah sejarah yang disertai polemik itu tepat atau ngelantur? Tak soal. Sekali lagi, seperti kata Mahbub Djunaidi, bagaimana mengkritisi sedangkan topangan literatur tiada. Orang Betawi bukanlah orang Jawa yang walau banyak bohong masih sempat meninggalkan sejarahnya dalam babad.

Motto hidup orang Betawi yang ingin senang terus, membuat mereka tak ambil pusing soal polemik asal muasal itu. Mereka terima saja ketika pemerintah Jakarta menetapkan baginya hari ulang tahun, 22 Juni. Tepat atau tidak, benar atau bohong hari ulang tahun itu bagi orang Betawi tidak jadi soal, karena sesama satu kesatuan entitas nasional jangankan benarnya, bohongnya pun mesti percaya. Hidup sekali dan sudah susah koq dibikin susah-susah dengan segala versi itu.

Boleh jadi sikap ini karena mereka awam sejarah, atau malah sebaliknya, sejarah itu diragukan kebenarannya. Orang Betawi memang polos dan jenaka. Bagi mereka kwalitas manusia itu tidak ditentukan oleh kapan lahir dan dari keturunan siapa, melainkan isi kepala dan prilakunya. Ya, memang keturunan itu bukan apa-apa dan tidak 100% dominan.

Taruhlah orang Betawi itu keturunan Baginda Raja Salakanagara yang hebat, Ki Balung Tunggal yang sakti atau cuma budak yang hina, tetapi yang penting siapakah orang Betawi itu sekarang. Antara kebesaran Baginda Raja Salakanagara, kesaktian Ki Balung Tunggal dan kehinaan budak Kumpeni dengan orang Betawi sekarang tidak ada hubungannya sama sekali. Tak perlu cerewet dengan kisah asal muasal keturunan. Lebih penting adalah orang Betawi sekarang mesti belajar dan bekerja keras untuk jadi berkwalitas macam raja-raja besar dan jangan jatuh hina ditindas bagai budak tak berharga. Kwalitas tak jatuh dari keturunan, dan tidak juga dari langit.

Tetapi tentang siapakah orang Betawi, dari mana asalnya, pendek kata sejarahnya orang Betawi mesti dicarikan jawaban. Memang kwalitas tak jatuh dari keturunan, tetapi pertanyaan sejarah itu bukan berarti mesti diremehkan dan tidak harus dicari jawabannya. Sebisanya mesti dijawab, sebab itu menyangkut sejauh mana sebetulnya kita bersungguh-sungguh dengan sejarah. Sejarah yang lebih adil, yang bisa menjadi sumber inspirasi dan pedoman yang menuntun masyarakat pendukungnya sekarang belajar serta mengetahui serta mengerti seraya bekerja keras untuk mencapai arah kemana mereka mesti menuju.

Dalam konteks itu saling silang tentang sejarah asal usul orang Betawi menjadi penting dan perlu disyukuri sebagai tanda bahwa arah mencari sejarah yang adil tengah berjalan, dan disana sejarah sebagai gambaran masa lalu yang adalah pula merupakan berita pikiran atau discourse, yang menuntut adanya proses dialogis telah terjadi dan tinggal kini orang Betawi mengambil hikmahnya dari setiap historiografi atau penulisan sejarah yang terlibat dalam polemik itu untuk menjawab keprihatinan dan kegelisahan sosial-kultural mereka yang harus bertanggungjawab memajukan kehidupan manusia Betawi sekaligus manusia Indonesia.[JJ Rizal]

Source: http://staff.blog.ui.ac.id/syam-mb/2009/05/18/siapa-dan-darimanakah-orang-betawi/
Tari Kuda Lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek militer dari pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, dengan jentikan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Seringkali dalam pertunjukan tari Kuda Lumping, acara juga menampilkan atraksi berbau magis kekuatan gaib, seperti kaca tarik mengunyah, memotong lengan dengan parang, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural di zaman kuno dikembangkan di Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang digunakan untuk melawan penjajah.  

Dalam tahap ini, tidak perlu koreografi khusus, serta peralatan perlengkapan sebagai Karawitan gamelan . Gamelan untuk mengiringi tari Kuda Lumping cukup sederhana, hanya terdiri dari Kendang, Kenong, Gong, dan terompet, seruling dengan suara melengking. Puisi dinyanyikan dalam tarian yang menyertainya, biasanya mengandung daya tarik bahwa orang-orang selalu melakukan perbuatan baik dan selalu ingat Sang Pencipta. Beberapa penari muda bambu naik dan menari untuk musik. Pada bagian ini, para penari Buto Lawas mungkin telah dimiliki atau dikuasai oleh roh. Para penonton juga tidak luput dari fenomena kepemilikan.

 Banyak masyarakat setempat yang menyaksikan pertunjukan ke trans dan menari dengan penari. Sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya. Untuk memulihkan penari dan kesadaran penonton dimiliki, dalam setiap pagelaran selalu hadir leluhurnya, orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui pakaian yang dia kenakan semua hitam. Kakek akan memberikan penawar hingga penari dan kesadaran penonton pulih.
 
Wayang kulit yang tradisional Jawa seni yang masih bertahan sampai hari ini. Tidak diragukan lagi, ketika UNESCO pada 7 November 2003 menobatkan wayang sebagai karya yang menakjubkan budaya dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga . boneka bayangan yang sangat baik dikenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur .

Nenek moyang Indonesia , beberapa puluh tahun SM telah dikenal wayang , bentuk panggung sebagai sarana religius ritus ritual -menggunakan shadow - shadow ( boneka ) dalam menyampaikan program-program mereka . Menjadi Hindu bangsa menemukan wayang sebagai forum untuk membawa kisah Mahabharata atau Ramayana dalam agama.

Lalu ada yang sangat harmonis perpaduan antara dua budaya yang berasal dari Hindu dan seorang asli Indonesia , sehingga sampai saat ini wayang dengan cerita dari Hindu ( Mahabharata dan Ramayana ) mampu beradaptasi dengan perkembangan dari sejarah Indonesia . Secara bertahap seni pedalangan di Indonesia berkembang sesuai dengan selera dan kebutuhan penggemar , menciptakan berbagai bentuk dan berbagai cerita dari Menak wayang , wayang Suluh ke Rev bersama tradisional lainnya kesenian yang terkait ke dalam seni pedalangan


 Puppetry seni ( termasuk seni pedalangan ) adalah salah satu tradisional bentuk klasik seni dan budaya Indonesia yang adhiluhung (bernilai tinggi ), mengandung nilai kehidupan dan yang hidup luhur , yang pada setiap akhir cerita atau kisah -nya kebaikan dan selalu menang atas kejahatan . itu, mengandung doktrin, yang bekerja dengan baik untuk menjadi unggul , sedangkan perbuatan buruk akan selalu menerima kekalahan .

Berikut ini ada 7 buah kitab-kitab peninggalan zaman kerajaan di Indonesia.

Dua diantaranya adalah kitab yang dihasilkan dari zaman Kerajaan Kediri, sedangkan dua lagi adalah kitab-kitab yang dihasilkan oleh empu pada zaman Kerajaan Majapahit.

7 Kitab Peninggalan Sejarah dan Pengarangnya

1. Kitab Sutasoma, dikarang oleh Empu Tantular.



Empu Tantular hidup pada zaman Kerajaan Majapahit.

2. Kitab Mahabharata, dikarang oleh Resi Wiyasa.


3. Kitab Ramayana, dikarang oleh Empu Walmiki.


4. Kitab Arjuna Wiwaha, dikarang oleh Empu Kanwa.


Empu Kanwa ini hidup pada zaman pemerintahan Raja Airlangga, Kahuripan.

5. Kitab Smaradahana, dikarang oleh Empu Darmaja.


Empu Darmaja hidup pada zaman Raja Kameswara I Kediri.

6. Kitab Bharatayuda, dikarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh.


Kedua Empu hidup pada zaman kerajaan Kediri, dengan Raja Jayabaya.

7. Kitab Negarakertagama, dikarang oleh Empu Prapanca.


Empu Prapanca hidup pada zaman Kerajaan Majapahit.

Tujuh kitab tersebut adalah kitab-kitab kuno yang sangat terkenal di Indonesia, hasil karya Pujangga-Pujangga asli tanah air pada zamannya.

Sebut saja Kitab Sutasoma buah karya Empu Tantular, siapa yang tidak pernah mendengar kitab ini terutama anak-anak sekolah pastilagh pernah mendengarnya dan bahkan hafal sampai siapa pengarangnya.
Wayang golek jawa barat.
ASAL MULA

Asal mula wayang golek tidak diketahui secara lengkap, dan jelas. Tapi sebenarnya wayang golek merupakan pengembangan dari wayang kulit. Salmun (1986) menyebutkan bahwa pada tahun 1853 M sunan kudus membuat wayang yang berbahan dari kayu, dan diberi nama wayang golek, dan dapat dimainkan atau dipentaskan pada waktu siang hari. Selain itu Ismunandar (1988) mengatakan pada awal abad ke-16, sunan kudus membuat bangun wayang purwo sebanyak 70 buah dengan cerita menak yang diiringi oleh gamelan salendro, bentuknya menyerupai boneka, tidak memerlukan klir, berbahan kayu oleh karna itu dinamakan wayang golek. 
Awalnya yang diceritakan dalam cerita wayang golek adalah cerita panji, dan wayangnya disebut wayang golek menak. Konon wayang golek ini ada sejak masa panembahan ratu (cicit sunan gunung jati (1540-1650)) didaerah cirebon. Pada masa itu disebut wayang papak atau cepak, karena bentuknya datar. Pada masa pangeran grilaya (1650-1662) wayang papak dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad, dan sejarah tanah jawa. Lakon pada waktu itu bernuansa atau berkisar pada penyebaran agama islam, dengan lakon cerita ramayana, dan mahabrata (wayang golek purwa) yang lahir pada tahun 1840 (Somantri 1988).
Kelahiran wayang golek diprakarsai oleh dalem karang anyar (Wiranata kusumah III) pada masa akhir jabatanya. Pada masa itu beliaw memerintah kiDarman (penyungging wayang kulit, dari tegal) yang tinggal dicibiru, ujung berung, untuk membuat wayang dari kayu, tetapi berbentuk gepeng menyerupai wayang kulit. Tetapi atas anjuran dalem itu sendiri wayang yang berbentuk gepeng itu dbuat berbentuk bulat, seperti wayang-wayang sekarang kebanyakan. Perkenalan wayang golek dipriangan, dikenal pada abad -19 sejak dibukanya jalan raya Daendels. Mulanya pementasan wayang golek dibawakan dengan bahasa jawa, namun setelah orang sunda pandai mendalang, dirubah menjadi ke bahasa sunda.
wayang golek purwa.
wayang golek modern

Wayang golek merupakan salah satu kebudayaan asli indonesia, yang berasal dari jawa barat, dan sampai saat ini masih bertahan dikalangan masyarakat. Namun walaupun wayang golek ini merupakan ciri khas suku sunda, tetapi tidak banyak orang yang tau asal usul wayang golek itu sendiri. sebab sudah terkonstaminasi oleh kebudayaan-kebudayaan asing, yang mungkin lebih dminati oleh masyarakat indonesia pada umumnya. 
Kendati demikian, dalam beberapa tahun terakhir ini, kesenian wayang golek ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Karena kesenian wayang golek ini oleh sebagian orang yang masih peduli akan kebudayaan asli, yang diwariskan oleh nenek moyang, dimodernisasikan, serta diberi sentuhan-sentuhan yang tidak membuat masyarakat bosan. Contohny sebuah paguyuban wayang golek yang berasal dari Bandung yaitu paguyuban wayang golek GIRIHARJA dengan dalangnya yang sudah dikenal, yaitu Kidalang Asep Sunandar Sunarya putra dari dalang senior Kidalang abah Sunarya. Ki dalang Asep Sunandar S mampu membuat masyarakat kembali mencintai kesenian wayang golek, dengan permainan yang sudah dimodernisasikan, seperti muntah, dan makan mie, serta teknik-teknik lainya, dan dikalaborasikan dengan bodoran-bodoran yang membuat yang menontonya tidak merasa bosan.
Sebelum ki dalang Aep Sunandar Sunarya, masih banyak lagi dalang-dalang kondang yang sudah memodernisasikan, seperti kaka dari kidalang Asep Sunandar S yaitu Kidalang Ade kosasih sunarya, terdahulu dan  masih banyak dalang lainya.
Dari inspirasi, dan inovasi serta kerja keras dalang-dalang itu, akhirnya seni wayang golek banyak diminati bukan hanya di kalangan masyarakat indonesia saja, namun sudah memancanegara seperti amerika, inggris, prancis dan banyak negara-negara lainya. tidak sedikit juga peminat-peminat dari kalangan muda yang muncul ikut melestarikan kebudayaan wayang golek, contohnya putu girharja yaitu Kidalang Dadan sunandar Sunarya, Kidalang adhi kontea kosasih sunarya, dan masih banyak lainya, mereka ikut melestarikan budaya seni wayang golek, dengan inovasi-inovasi mereka yang lebih modern. Sampai ada yang dikalaborasikan dengan sentuhan-sentuhan luar, contohnya sudah kita ketahui alat-alat yang digunakan untuk mengiringi wayang golek adalah alat musik tradisional, seperti kendang, goong, bonang dll. namu oleh sebagian dalang-dalang masa kini ditambah alat-alat musik modrn seperti gitar, drum dll, untuk mengiringi dalam pementasan wayang golek.
PEMBUATAN WAYANG GOLEK
Wayang golek terbuat dari albasiah atau lame. cara pembuatanya dengan cara meraut dan mengukirnya, sehingga menyerupai bentuk yang diinginkan. Untuk mewarnai dan menggambar mata, alis, bibir, dan motif dikepala wayang, digunakan cat duko, dengan cat ini wayang menjadi lebih cerah. Pewarnaan wayang sangat penting, karena dapat menghasilkan berbagai karakter tokoh. Adapun warna dasar yang digunakan dalam wayang ada 4: Merah, Putih, Prada, dan Hitam.

Adapun sebuah industri yang membuat wayang golek, yang beralamat di ds. jelekong, kec. ciparai, kab. bandung, dan diberi nama "Graha Wayang Golek Big Giriharaja" pengelola industeri ini bernama Suherman Sunanndar, Beliaw sebenarnya adalah salah satu putra dari dalang senior yaitu Kidalang Abah Sunarya, ia tidak seperti sodara-sodaranya yang justru lebih menggeluti propesi ayahny yaitu menjadi seorang dalang, namun suherman sunandar lebih menggeluti dalam pembuatan wayang golek. Namun seiring perkembangan usia yang semakin lanjut, beliaw tidak lagi berkecimbung lagi dalam industri pembuatan wayang golek, dan pada tahun 1997 beliaw telah mewariskan kepada anak mantunya yang bernama Barnas Sabunga.

Dibawah pimpinan Barnas yang semula murni untuk melestarikan kesenian wayang golek, kini dikelola secara profesional, sehingga setahap demi setahap industeri kerajinan itu dapat menghasilkan uang. Sebagian dari penghasilan yang diperoleh dari industeri itu, disisihkan barnas untuk membangun perpustakaan, dam musiem wayang golek. Selain membuat kesenian wayang golek, graha wayang golek big giriharja juga memproduksi lukisan-lukisan karya istrinya, yang juga dipajang di graha wayang golek big giriharja.
.