Select Menu

sponsor

Select Menu

Flora Fauna

Transportasi Tradisional

Bali

Pantai

Kuliner

» » » Machu Picchu, Legenda Kota Inca yang Hilang


Uong Jowo June 08, 2013 0

Machu Picchu (Gunung Tua dalam bahasa Quechua atau Kota Inca yang hilang) terletak 2.350 meter di atas permukaan laut di puncak bukit kecil di antara pegunungan Andes. Machu Picchu adalah sebuah lokasi reruntuhan Inca yang terletak di atas lembah Urubamba di Peru, sekitar 70 km barat laut Cusco.
Alkisah sebelum pasukan Spanyol tiba, cacar menyebar di antara penduduk Inca pada tahun 1527. Lima puluh persen penduduk terbunuh oleh penyakit ini.
Kegagalan pemerintah dalam mengatasi kemelut ini melahirkan pemberontakan hingga jatuh ke dalam perang saudara. Pada saat sang penakluk Inca, Pizzaro, tiba di Cuzco pada tahun 1532, Machu Picchu sudah dilupakan.
Seperti dilansir laman peru-machu-picchu.com, Machu Picchu ditemukan kembali pada tahun 1911 oleh Hiram Bingham, seorang profesor dari Yale. Saat itu Bingham tengah mencari Vilcabamba, benteng terakhir yang belum ditemukan dari kerajaan Inca. Ketika menemukan Machu Picchu, Bingham berpikir bahwa ia telah menemukan Vilcabamba.
Dari hasil penelusuran, Machu Picchu tampaknya telah dimanfaatkan oleh Inca sebagai kota upacara rahasia yang bersifat sakral.
Kemungkinan besar Machu Picchu merupakan tempat pelatihan pendeta atau pengantin bangsawan Inca. Pemeriksaan tulang menunjukkan kesamaan dengan tulang laki-laki, sehingga Machu Picchu tidak semata-mata sebuah kuil atau tempat tinggal perempuan.
Salah satu fungsi utama Machu Picchu adalah observatorium astronomi. Batu Intihuatana (berarti ‘Pos Matahari’) terbukti menjadi indikator periode langit yang tepat. Adapun Intihuatana (Saywa atau batu Sukhanka) dirancang untuk menghalangi matahari. Pada periode ini, suku Inca mengadakan upacara di batu di mana mereka "terikat matahari” untuk menghentikan gerakan langit utara.
Machu Picchu terdiri dari sekitar 200 bangunan yang memiliki dinding polygonal dengan  karakteristik periode Inca. Bangunan berbobot 50 ton (atau lebih) ini dibangun dengan ketelitian sehingga sebilah pisau tipis pun tak dapat menembus dinding-dindingnya.
Machu Picchu terbagi menjadi tiga area: pertanian, perkotaan, dan agama dengan struktur yang diatur sedemikian rupa sehingga fungsi bangunan sesuai dengan bentuk lingkungan.
Suku Inca menanam tanaman seperti kentang dan jagung di Machu Picchu. Untuk mendapatkan hasil setinggi mungkin, mereka menggunakan metode terasering maju dan irigasi untuk mengurangi erosi dan meningkatkan area budidaya.
Terasering dan saluran air pertanian memanfaatkan lereng alam. Daerah bangunan ditempati oleh kaum petani dan guru, anak-anak, dan imam. Daerah religius yang paling penting terletak di puncak bukit, dengan pemandangan lembah Urubamba yang subur.
Satu hal yang unik tentang Machu Picchu adalah arsitektur lanskapnya. Formasi batu digunakan dalam pembangunan struktur, patung-patung, waduk, dan kuil-kuil yang menggantung di tebing curam. Bentuk atap rumah-rumah yang terbuat dari jerami dan pintu dan jendela yang berbentuk trapesium juga tidak biasa.
Para pejalan kaki, wisatawan, dan penjelajah dapat menyusuri jalan dengan menggunakan Inca Trail. Pemandangan kuil, ladang, teras, dan kamar mandi seolah membawa Anda ke dunia lain. Perpaduan bukit dan artefak-artefak ini nampak seperti surga hijau yang halus dan elegan.
Dengan keunikan ini, Machu Picchu pun ditunjuk sebagai Situs Warisan dunia UNESCO sejak tahun 1983. Machu Picchu juga dinobatkan sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia yang baru.

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply

.